Tuesday, 12 March 2019

TRAUMA ABDOMEN (Abdominal Trauma)


KLASIFIKASI
  • Trauma Tajam Abdomen
    • Luka tusuk lebih sering terjadi
    • Luka tembak merupakan penyebab 90% kasus kematian
    • Paling sering mengenai: usus halus > colon > hepar
  • Trauma Tumpul Abdomen
    • Trauma tumpul menyebabkan kematian lebih besar dari trauma tajam abdomen, karena sulit untuk didiagnosa dan berhubungan dengan multiple trauma
    • Organ terkena : lien > hepar

MEKANISME TRAUMA

Trauma Tajam Abdomen
  • Luka Tusuk
    • Pisau, pemecah es, pen, pecahan botol
  • Luka Tembak
    • Menyebabkan multipel trauma organ dan perforasi usus

PEMERIKSAAN FISIK


Tanda – tanda perdarahan intraperitoneal

  • Nyeri tekan abdomen, defans muskular,  hematoschezia/melena , hipovolemia, hipotensi
  • Tentukan entrance and exit wound untuk mengetahui jalur cedera (injury pathway)
  • Distensi abdomen -  pneumoperitoneum, gastric dilation, or ileus
  • Ecchymosis pada regio flank (Gray-Turner sign) atau umbilicus (Cullen's sign) - retroperitoneal hemorrhage
  • Contusio abdomen
  • Penurunan suara peristaltik abdomen
  • RT: ditemukan darah pada handschoen

PATOFISIOLOGI
  • Blunt Abdominal Trauma
    • Rupture or burst injury of a hollow organ by sudden rises in intra-abdominal pressures
    • Crushing effect
    • Acceleration and deceleration forces  → shear injury
  • Seat belt injuries
    • “seat belt sign” = highly correlated with intraperitoneal injury

DIAGNOSIS

Laboratorium
  • Dapat ditemukan adanya ↓ Hct, ↑ WBC, ↓ Hb
Radiologi
  • Foto polos:
    • Bila terdapat fraktur akan terjadi kerusakan pada organ viscera di sekitarnya
    • Dapat ditemukan udara bebas intraperitoneal
  • Imaging CT Scan
    • Untuk melihat lesi pada organ dan perdarahan intraperitoneal
    • Membantu dalam tatalaksana non operatif
    • Kerugian : kurang sensitif untuk trauma pada pankreas, diafragma, usus halus, mesentarium
  • Imaging Angiography
    • Untuk embolisasi perdarahan digunakan untuk perdarahan intraperitoneal dan retroperitoneal setelah trauma tumpul abdomen.
  • FAST
    • Focused assessment with sonography for trauma (FAST)
    • Digunakan untuk mengidentifikasi adanya perdarahan intraperitoneal setelah trauma tumpul
    • 4 area: Perihepatic & hepato-renal space (Morrison’s pouch), Perisplenic, Pelvis (Pouch of Douglas/rectovesical pouch), Pericardium (subxiphoid)
    • Sensitivitas 60 - 95% untuk mendeteksi cairan 100 mL - 500 mL
  • Diagnostic Bilas Lambung
  • Aspirasi cairan darah peritoneal
    • >10 mL menandakan adanya trauma intraperitoneal
    • Masukkan kateter dengan seldinger, semiopen, atau open
    • Bilas cavum peritoneal dengan Normal Saline
    • Positif, bila:
      • Trauma tumpul, atau trauma tusuk pada bagian anterior, flank, atau posterior : RBC > 100,000/mm3
      • Luka tusuk pada inferior dada atau luka tembak : RBC  > 5,000-10,000/mm3
  • Laparoscopy
    • Penting untuk evaluasi luka tusuk pada thoracoabdominal
    • Terutama trauma diaphragma
    • Memperbaiki organ dengan laparoscope: diaphragm, solid viscera, stomach, small bowel.
    • Kerugian: Kurang sensitif pada organ berrongga dan retroperitoneum, Komplikasi apabila terjadi trocar misplacement.

TATALAKSANA

Prinsip Umum Trauma:
  • Manajemen jalan napas, pemasangan dua jalur IV, penutupan luka dan eviscerasi dengan perawatan luka steril
  • Antibiotik profilaksis : menurunkan resiko sepsis intraabdomen karena perforasi organ
  • Pencabutan benda asing dilakukan di kamar operasi
Management of Blunt abdominal trauma
  • Pembedahan

KESIMPULAN
  • Laparotomy dilakukan apabila terjadi shock, evisceration, atau peritonitis
  • FAST merupakan cara evaluasi perdarahan intraperitoneal yang noninvasive, cepat, dan akurat
  • Kontrol kerusakan adalah prinsip manajemen operasi dengan mengontrol dan meresusitasi sebelum dilakukan terapi definitif

REFERENSI
  • Biffl WL, Moore EE. Management guidelines for penetrating abdominal trauma. Curr Opin Crit Care 2010;16:609-617
  • Waibel BH, Rotondo MF. Damage control in trauma and abdominal sepsis. Crit Care Med. 2010 Sep;38(9 Suppl):S421-30.
  • Marx: Rosen’s Emergency Medicine, 7th ed. 2009 Mosby



RHINITIS ALERGIKA


PENDAHULUAN

Rhinitis secara umum didefinisikan sebagai radang mukosa hidung. Rhinitis merupakan kelainan umum yang terjadi pada 40% populasi. Rinitis alergi adalah jenis rinitis kronis yang paling umum, yang terjadi pada 10% - 20% populasi. Rhinitis alergi yang parah dikaitkan dengan penurunan kualitas hidup, gangguan tidur dan penurunan kerja yang signifikan. (Small et al., 2011).

Dahulu, rhinitis alergi dianggap sebagai gangguan yang terlokalisasi pada hidung dan nasal, namun bukti saat ini menunjukkan bahwa hal itu mungkin merupakan komponen penyakit saluran napas sistemik yang melibatkan seluruh saluran pernapasan. Ada beberapa hubungan fisiologis, fungsional dan imunologis antara saluran pernapasan bagian atas (hidung, rongga hidung, sinus paranasal, faring dan laring) dan saluran pernafasan bagian bawah (trakea, bronkial, bronchioles dan paru-paru). Dokter juga harus menyadari hubungan antara rhinitis alergi dengan kondisi lain seperti asma, dermatitis atopik, dan konjungtivitis. (Demoly et al., 2013).

Menurut WHO-ARIA, Rhinitis Alergi diklasifikasikan berdasarkan kronisitas (intermiten atau persisten), dan tingkat keparahan yang didasarkan pada gejala dan kualitas hidup (ringan, atau sedang / berat). (Gupta et al., 2010).

Rhinitis ditemukan di semua ras manusia, pada anak-anak lebih sering terjadi terutama anak laki-laki. Memasuki usia dewasa, prevalensi laki-laki dan perempuan sama. Insidensi tertinggi terdapat pada anak-anak dan dewasa muda dengan rerata pada usia 8-11 tahun, sekitar 80% kasus rhinitis alergi berkembang mulai dari usia 20 tahun. Insidensi rhinitis alergi pada anak-anak 40% dan menurun sejalan dengan usia sehingga pada usia tua rhinitis alergi jarang ditemukan (Bousquet et al., 2008).

VASKULARISASI

Bagian superior rongga hidung mendapat nutrisi dari arteri etmoidalis, sementara bagian posterior dan inferior di vaskularisasi oleh arteri maksilaris (Irawati et al., 2007).

INERVASI

Yang terlibat langsung adalah saraf kranialis pertama untuk penghiduan, divisi optalmicus dan maksilaris dari saraf trigeminus untuk impuls aferen sensorik lainnya, saraf fasialis untuk gerakan otot – otot pernapasan pada hidung luar, dan sistem saraf otonom (Irawati et al., 2007).
Ganglion sfenopalatina untuk mengontrol diameter vena dan arteri hidung dan juga produksi mukus.

ETIOLOGI
  • INHALAN (udara pernapasan) - debu rumah, tungau, human dander, jamur, bulu hewan
  • INGESTAN (makanan)– susu, telur,kacang tanah, udang, dll.
  • INJEKTAN (suntikan atau tusukan) – penisilin, sengatan lebah
  • KONTAKTAN (kontak kulit atau mukosa) – bahan kosmetik, perhiasan

FAKTOR PREDISPOSISI
  • Genetik         
  • Infeksi - sinusitis – asma
  • Umur
  • Kondisi sosial ekonomi dan kebugaran
  • Pekerjaan
  • Polusi udara atau asap rokok
  • Konsentrasi alergen
  • Musim – iklim, suhu, lembab, tekanan udara
  • Stress psikis

PATOFISIOLOGI
Patofisiologi Rinitis Alergi

  • Tahap Sensitisasi:
    • Kontak I tubuh akan membentuk IgE spesifik
    • IgE spesifik menempel pada permukaan sel mastosit dan basofil yang mengandung granul
    • Sensitization & IgE production
  • Tahap Reaksi Alergi Fase Cepat (RAFC)
    • Paparan ulang alergen spesifik
      • Degranulasi mastosit
      • Histamin (efek utama)
      • Serotonin
      • ECF-A, NCF-A
      • Prostaglandin D2 (PGD2)
      • Leukotrient C4 (LTC4)
      • PAF, dll
    • Histamin sebagai efektor utama
    • Rangsang saraf: gatal dan bersin
    • Hipersekresi kelenjar : rinore
    • Vasodilatasi dan permeabilitas kapiler  meningkat 
    • Terjadi dalam beberapa menit dan puncaknya sampai 30 menit – 1 jam
  • Tahap Reaksi Alergi Fase Lambat (RAFL)
    • 30-40% penderita RA
    • 2-4 jam setelah paparan, puncak 6-8 jam dan berakhir 24 jam atau 48 jam kemudian
    • Gejala obstruksi nasi, bersin dan rinore
    • Dalam mukosa hidung:
      • Sel inflamasi
      • IL-3, IL-4 dan IL-5
      • ICAM-1

DIAGNOSIS
  • Clinical history
  • Pemeriksaan Fisik
  • Pemeriksaan Penunjang

ANAMNESIS
  • Keluhan: Pasien datang dengan keluhan keluarnya ingus encer dari hidung (rinorea), bersin, hidung tersumbat dan rasa gatal pada hidung (trias alergi).
  • Bersin merupakan gejala khas, biasanya terjadi berulang, terutama pada pagi hari. Bersin lebih dari lima kali sudah dianggap patologik dan perlu dicurigai adanya rhinitis alergi dan ini menandakan reaksi alergi fase cepat. Gejala lain berupa mata gatal dan banyak air mata.

FAKTOR RISIKO
  • Adanya riwayat atopi.
  • Lingkungan dengan kelembaban yang tinggi merupakan faktor risiko untuk untuk tumbuhnya jamur, sehingga dapat timbul gejala alergis.
  • Terpaparnya debu tungau biasanya karpet serta sprai tempat tidur, suhu yang tinggi.

PEMERIKSAAN FISIK
  • Perhatikan adanya allergic salute, yaitu gerakan pasien menggosok hidung dengan tangannya karena gatal.

Wajah
  • Allergic shiners yaitu dark circles di sekitar mata dan berhubungan dengan vasodilatasi atau obstruksi hidung.
  • Nasal crease yaitu lipatan horizontal (horizontal crease) yang melalui setengah bagian bawah hidung akibat kebiasaan menggosok hidung keatas dengan tangan.
  • Mulut sering terbuka dengan lengkung langit-langit yang tinggi, sehingga akan menyebabkan gangguan pertumbuhan gigi-geligi (facies adenoid).

Pada pemeriksaan faring
  • Dinding posterior faring tampak granuler dan edema (cobblestone appearance), serta dinding lateral faring menebal. Lidah tampak seperti gambaran peta (geographic tongue).

Pada pemeriksaan rinoskopi:
  • Mukosa edema, basah, berwarna pucat atau kebiruan (livide), disertai adanya sekret encer, tipis dan banyak. Jika kental dan purulen biasanya berhubungan dengan sinusitis.
  • Pada rhinitis alergi kronis atau penyakit granulomatous, dapat terlihat adanya deviasi atau perforasi septum.
  • Pada rongga hidung dapat ditemukan massa seperti polip dan tumor, atau dapat juga ditemukan pembesaran konka inferior yang dapat berupa edema atau hipertropik. Dengan dekongestan topikal, polip dan hipertrofi konka tidak akan menyusut, sedangkan edema konka akan menyusut.

Pemeriksaan kulit bisa ditemukan:
  • Dermatitis atopi

PEMERIKSAAN LABORATORIUM

Bila ditemukan dan dapat dilakukan di layanan primer:
  • Hitung eosinofil dalam darah tepi dan sekret hidung.
  • Pemeriksaan Ig E total serum

PENEGAKAN DIAGNOSIS

Diagnosis Klinis: Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang bila diperlukan.

Rekomendasi dari WHO Initiative ARIA (Allergic Rhinitis and it’s Impact on Asthma), 2008, rhinitis alergi dibagi berdasarkan sifat berlangsungnya menjadi:
  • Intermiten, yaitu bila gejala kurang dari 4 hari/minggu atau kurang dari 4 minggu.
  • Persisten, yaitu bila gejala lebih dari 4 hari/minggu dan/atau lebih dari 4 minggu
Sedangkan untuk tingkat berat ringannya penyakit, rhinitis alergi dibagi menjadi:
  • Ringan, yaitu bila tidak ditemukan gangguan tidur, gangguan aktivitas harian, bersantai, berolahraga, belajar, bekerja dan hal-hal lain yang mengganggu.
  • Sedang atau berat, yaitu bila terdapat satu atau lebih dari gangguan tersebut di atas.

The rhinitis management (algorithm of the ARIA-Update recommendations 2008 and 2010)
TATALAKSANA
  • Menghindari alergen spesifik
  • Pemeliharaan dan peningkatan kebugaran jasmani telah diketahui berkhasiat dalam menurunkan gejala alergis
  • Terapi topikal dapat dengan dekongestan hidung topikal melalui semprot hidung. Obat yang biasa digunakan adalah oxymetazolin atau xylometazolin, namun hanya bila hidung sangat tersumbat dan dipakai beberapa hari (< 2 minggu) untuk menghindari rhinitis medikamentosa.
  • Preparat kortikosteroid dipilih bila gejala sumbatan hidung akibat respons fase lambat tidak dapat diatasi dengan obat lain. Obat yang sering dipakai adalah kortikosteroid topikal: beklometason, budesonid, flunisolid, flutikason, mometason furoat dan triamsinolon.
  • Preparat antikolinergik topikal adalah ipratropium bromida yang bermanfaat untuk mengatasi rinorea karena aktivitas inhibisi reseptor kolinergik pada permukaan sel efektor.

Terapi oral sistemik:

Antihistamin
  • Anti histamin generasi 1: difenhidramin, klorfeniramin, siproheptadin.
  • Anti histamin generasi 2: loratadin, cetirizine
Preparat simpatomimetik golongan agonis alfa dapat dipakai sebagai dekongestan hidung oral dengan atau tanpa kombinasi antihistamin. Dekongestan oral: pseudoefedrin, fenilpropanolamin, fenilefrin.

Terapi lainnya dapat berupa operasi terutama bila terdapat kelainan anatomi, selain itu dapat juga dengan imunoterapi

REFERENSI
  • Small P, Kim H. Allergic rhinitis. Allergy Asthma Clin Immunol. 2011 :1-8
  • Demoly  P,  Calderon  MA,  Casale  T,  Scadding  G,  Annesi-Maesano  I, Braun J, Serrano E. Assessment of disease control in allergic rhinitis. Clin Transl Allergy. 2013 ; 3 ; 1-7
  • Gupta  V,  Matreja  PS.  Efficacy  of  montelukast  and  levocetirizine  as treatment for allergic rhinitis. J Aller Ther. 2010 ; 1 ; 1-4
  • Bousquet J, Khaltaev N, Cruz AA, Denburg J, Fokkens WJ, Togias A, RosadoPinto  J.  Allergic  rhinitis  and  its  impact  on  asthma  (ARIA) 2008. Allergy. 2008 ;  63 ; 8-160
  • Irawati, N. Kasakeyan, E. Rusmono, N.Rhinitis Alergi dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala & Leher. Ed. ke-6. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. 2007
  • Angier E, Willington J, Scadding G, Holmes S, Walker S, British Society for Allergy, Clinical Immunology (BSACI) Standards of Care Committee. Management of allergic and non-allergic rhinitis: a primary care summary of the BSACI guideline. Prim Care Respir J. 2010 ; 19(3), 217-22
  • Tran NP, Vickery J, Blaiss MS. Management of rhinitis: allergic and non- allergic. Allergy, asthma & immunol res. 2011 ; 3(3), 148-56
  • Soetjipto D, Wardhani RS. Rhinitis Alergi, Guideline Penyakit THT-KL di Indonesia. Perhimpunan Dokter Spesialis THT-KL Indonesia. 2007 ; Hal: 59

GEDUNG-GEDUNG DI FAKULTAS KEDOKTERAN UGM YOGYAKARTA

Hallo temen - temen.. Setelah sekian lama engga nge-post.. aku mau nge-post gedung kuliah ku sekarang... yaitu di Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran UGM Yogyakarta... Jadi di Fakultas Kedokteran ada 3 Program Studi untuk S-1, yaitu Pendidikan Dokter, Ilmu Keperawatan, dan Gizi kesehatan.. Ada yang mau nerusin ke FK UGM juga ga yaaa?? Kalau iya harus kenal dulu donk Gedung - Gedung yang ada di FK UGM, Tahun 2019 nama FK UGM diubah menjadi FK-KMK UGM yaitu Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada.

Langsung ajaa yuukk.. cap cussss...

1. Gedung RP (Radiopoetro)

Nah ini dia Radiopoetro, gedung ini sampai lantai 6... Gedung ini khusus Pendidikan Dokter.. Gedung ini pula yang menghubungkan FK UGM dengan RS Sardjito... di Lantai 1 untuk PBL/Kurikulum dan tutorial, Lantai 2 juga untuk Tutorial dan Praktikum Farmakologi.. Lantai 3 sampai 6 untuk praktikum.. Buat praktikum Biokimia, Mikrobiologi, Farmakologi, Parasitologi, Patologi Anatomi, Patologi Klinik, Fisiologi, dll... hehehe. Lanjuuutttt....

2. Gedung KPTU





Ini dia KPTU.. Buat apa sih ni gedung?? Ini gedung untuk urusan administrasi deh... mau liat IP? bisa disini, mau ngurus surat-surat? Biaya Pendidikan? di sini juga tempatnya :D. Ada bank BNI dan kantor untuk Dekan. Ada juga bagian exchange jika teman - teman berminat pertukaran pelajar ke luar negeri. Tidak lupa tim kurikulum juga bertugas di Gedung KPTU ini.

3. Gedung Grha Wiyata



Ini Gedung untuk skills lab mahasiswa Pendidikan Dokter dan untuk tutorial Mahasiswa Pendidikan Dokter Internasional.. Kantor Kepala Program Studi dan bagian Rotasi Klinik juga ada di Gedung ini.

4. Gedung Tahir


Gedung ini sebagian besar diperuntukkan mahasiswa pasca sarjana dalam menempuh studinya.

5. Masjid Ibnu Sina


Masjid milik FK UGM, ya Masjid Ibnu Sina.

6. Auditorium dan Ruang Kuliah


Auditorium untuk acara-acara resmi dan perkuliahan yang membutuhkan kursi banyak, bisa mencapai 200 orang lebih di dalam Audit ini, tepatnya berada di Lantai Dasar RK (Ruang Kuliah)


Ruang Kuliah ada di Lantai 2, 3, 4, dan 5. Bisa menampung sekitar 130 mahasiswa.

Sebenernya masih banyak lagi Gedung - Gedung yang lainnya.. seperti Gedung Ismangoen untuk Prodi Keperawatan, Gedung Joglo Alumni, Gedung Anatomi, Gedung Histologi, Gedung Gizi Kesehatan, dll.. mungkin lain kali ya kita uraikan.. Bye byeeeee see u all next time :)

KEJANG DEMAM PADA ANAK

Definisi
  • Kejang demam adalah bangkitan yang terjadi pada anak berumur 6 bulan sampai 5 tahun yang mengalami kenaikan suhu tubuh ( suhu di atas 38’C, dengan metode pengukuran suhu apapun) yang tidak disebabkan oleh proses intrakranial (American academy of pediatric, 2011).
  • Kejang terjadi karna kenaikan suhu tubuh, bukan karna gangguan elektrolit atau metabolik lainnya. Bila ada riwayat kejang tanpa demam sebelumnya maka tidak disebut sebagai kejang demam. Anak berumur 1-6 bulan masih dapat mengalami kejang demam, namun jarang sekali, bila anak <6 bulan kejang didahului demam, pikirkan kemungkinan lain, terutama infeksi susunan saraf pusat. Bayi berusia kurang dari 1 bulan tidak termasuk dalam rekomendasi ini melainkan termasuk dalam kejang neonatus. (Nelson KB, Ellenberg JH, pediatric)
Epidemiologi
  • Kejang demam terjadi pada 2-5% anak berumur 6 bulan – 5 tahun (American academy of pediatric, 2011)
Klasifikasi
  • Kejang demam sederhana (simple febrile seizure)
  • Kejang demam kompleks (complex febrile seizure)
Kejang demam sederhana
  • Berlangsung singkat (< 15 menit)
  • Bentuk kejang umum (tonik dan atau klonik)
  • Tidak berulang dalam waktu 24 jam
Kejang demam kompleks
  • Kejang lama (>15 menit)
  • Kejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum didahului kejang parsial
  • Berulang atau lebih dari 1 kali dalam waktu 24 jam.

Diagnosis
  • Adanya kejang, jenis kejang, kesadaran, lama kejang
  • Suhu sebelum/saat kejang, frekuensi dalam 24 jam, interval, keadaan anak pasca kejang, penyebab demam di luar infeksi susunan saraf pusat (gejala infeksi saluran napas akut/ISPA, infeksi saluran kemih/ISK otitis media akut/OMA, dll)
  • Riwayat perkembangan, riwayat kejang demam dan epilepsi dalam keluarga
  • Singkirkan penyebab kejang lain (misalnya diare/muntah yang mengakibatkan gangguan elektrolit, sesak yang mengakibatkan hipoksemia, asupan kurang yang dapat menyebabkan hipoglikemia)

PEMERIKSAAN PENUNJANG
  • Pemeriksaan laboratorium: Pemeriksaan laboratorium tidak dikerjakan secara rutin pada kejang demam, tetapi dapat dikerjakan untuk mengevaluasi sumber infeksi penyebab demam. Pemeriksaan laboratorium yang dapat dikerjakan atas indikasi misalnya darah perifer, elektrolit, dan gula darah.
  • Pungsi Lumbal: Dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan meningitis. Pemeriksaan pungsi lumbal tidak dilakukan secara rutin pada anak berusia <12 bulan yang mengalami kejang demam sederhana dengan keadaan umum baik. Indikasi:
    • Terdapat tanda dan gejala rangsang meningeal
    • Terdapat kecurigaan adanya infeksi SSP berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan klinis
    • Dipertimbangkan pada anak dengan kejang disertai demam yang sebelumnya telah mendapat antibiotik dan pemberian antibiotik tersebut dapat mengaburkan tanda dan gejala meningitis.
  • Electro Encephalography (EEG): Pemeriksaan EEG tidak diperlukan untuk kejang demam, KECUALI apabila bangkitan bersifat fokal, untuk menentukan adanya fokus kejang di otak yang membutuhkan evaluasi lebih lanjut.
  • Pencitraan: Pemeriksaan CT scan atau MRI kepala tidak rutin dilakukan pada anak dengan kejang demam sederhana. Pemeriksaan tersebut dilakukan bila terdapat indikasi seperti kelainan neurologis fokal yang menetap, misalnya hemiparesis atau paresis nervus kranialis.

Diagnosis Banding
  • Kejang pada anak merupakan suatu gejala dan bukan suatu penyakit. Gangguan primer mungkin terdapat pada intrakranium atau ekstrakranium
  • Kelainan intrakranium: meningitis, ensefalitis
  • Gangguan metabolik: hipoglikemia, hyponatremia, hipokalsemia
  • Epilepsi

Pemberian obat
  • Antipiretik : Tidak ditemukan bukti bahwa penggunaan antipiretik mengurangi risiko terjadinya kejang demam (level of evidence 1, derajat rekomendasi A). Meskipun demikian, dokter neurologi anak di Indonesia sepakat bahwa antipiretik tetap dapat diberikan. Dosis parasetamol yang digunakan adalah 10-15 mg/kg/kali diberikan tiap 4-6 jam. Dosis ibuprofen 5-10 mg/kg/kali, 3-4 kali sehari.
  • Antikonvulsan: Pemberian obat antikonvulsan intermiten, yang dimaksud dengan obat antikonvulsan intermiten adalah obat antikonvulsan yang diberikan hanya pada saat demam. Profilaksis intermiten diberikan pada kejang demam dengan salah satu faktor risiko di bawah ini:
    • Kelainan neurologis berat, misalnya palsi serebral
    • Berulang 4 kali atau lebih dalam setahun
    • Usia <6 bulan
    • Bila kejang terjadi pada suhu tubuh kurang dari 39 derajat Celsius
    • Apabila pada episode kejang demam sebelumnya, suhu tubuh meningkat dengan cepat.
  • Obat yang digunakan adalah diazepam oral 0,3 mg/kg/kali per oral atau rektal 0,5 mg/kg/kali (5 mg untuk berat badan <12 kg dan 10 mg untuk berat badan >12 kg), sebanyak 3 kali sehari, dengan dosis maksimum diazepam 7,5 mg/kali. Diazepam intermiten diberikan selama 48 jam pertama demam. Perlu diinformasikan pada orangtua bahwa dosis tersebut cukup tinggi dan dapat menyebabkan ataksia, iritabilitas, serta sedasi.
  • Pemberian obat antikonvulsan rumat: Berdasarkan bukti ilmiah bahwa kejang demam tidak berbahaya dan penggunaan obat dapat menyebabkan efek samping yang tidak diinginkan, maka pengobatan rumat hanya diberikan terhadap kasus selektif dan dalam jangka pendek (level of evidence 3, derajat rekomendasi D).
  • Indikasi pengobatan rumat:
    • Kejang fokal
    • Kejang lama >15 menit
    • Terdapat kelainan neurologis yang nyata sebelum atau sesudah kejang, misalnya palsi serebral, hidrosefalus, hemiparesis.
  • Jenis antikonvulsan untuk pengobatan rumat
    • Pemberian obat fenobarbital atau asam valproat setiap hari efektif dalam menurunkan risiko berulangnya kejang (level of evidence 1, derajat rekomendasi B).
    • Pemakaian fenobarbital setiap hari dapat menimbulkan gangguan perilaku dan kesulitan belajar pada 40-50% kasus. Obat pilihan saat ini adalah asam valproat. Pada sebagian kecil kasus, terutama yang berumur kurang dari 2 tahun, asam valproat dapat menyebabkan gangguan fungsi hati. Dosis asam valproat adalah 15-40 mg/kg/hari dibagi dalam 2 dosis, dan fenobarbital 3-4 mg/kg/hari dalam 1-2 dosis.
  • Lama pengobatan rumat
    • Pengobatan diberikan selama 1 tahun, penghentian pengobatan rumat untuk kejang demam tidak membutuhkan tapering off , namun dilakukan pada saat anak tidak sedang demam.

PROGNOSIS
  • Prognosis kejang demam secara umum sangat baik. Kejadian kecacatan sebagai komplikasi kejang demam tidak pernah dilaporkan.
  • Perkembangan mental dan neurologis umumnya tetap normal pada pasien yang sebelumnya normal. Kelainan neurologis dapat terjadi pada kasus kejang lama atau kejang berulang, baik umum maupun fokal. Hal tersebut menegaskan pentingnya terminasi kejang demam yang berpotensi menjadi kejang lama.
  • Kejang demam akan berulang kembali pada sebagian kasus. Faktor risiko berulangnya kejang demam adalah:
    • Riwayat kejang demam atau epilepsi dalam keluarga
    • Usia kurang dari 12 bulan
    • Suhu tubuh kurang dari 39 derajat Celsius saat kejang
    • Interval waktu yang singkat antara awitan demam dengan terjadinya kejang.
    • Apabila kejang demam pertama merupakan kejang demam kompleks.
  • Faktor risiko menjadi epilepsi di kemudian hari adalah:
    • Terdapat kelainan neurologis atau perkembangan yang jelas sebelum kejang demam pertama
    • Kejang demam kompleks
    • Riwayat epilepsi pada orangtua atau saudara kandung
    • Kejang demam sederhana yang berulang 4 episode atau lebih dalam satu tahun.

Komplikasi
  • Sewaktu terjadi serangan kejang demam:
    • trauma akibat jatuh atau terbentur objek sekitar
    • mengigit bibir, lidah
    • aspirasi cairan ke dalam paru
  • Efek samping obat antikonvulsan yang digunakan
    • Hiperaktivitas
    • Iritabilitas
    • Letargi
    • Rash
    • Penurunan intelegensia

Edukasi kepada orang tua
  • Kejang merupakan peristiwa yang menakutkan bagi setiap orangtua. Pada saat kejang, sebagian besar orangtua beranggapan bahwa anaknya akan meninggal. Kecemasan tersebut harus dikurangi dengan cara diantaranya:
  • Meyakinkan orangtua bahwa kejang demam umumya mempunyai prognosis baik.
  • Memberitahukan cara penanganan kejang.
  • Memberikan informasi mengenai kemungkinan kejang kembali.
  • Pemberian obat pro laksis untuk mencegah berulangnya kejang memang efektif, tetapi harus diingat adanya efek samping obat.

Beberapa hal yang harus dikerjakan bila anak kejang
  • Tetap tenang dan tidak panik.
  • Longgarkan pakaian yang ketat terutama di sekitar leher
  • Bila anak tidak sadar, posisikan anak miring. Bila terdapat muntah, bersihkan muntahan atau lendir di mulut atau hidung.
  • Walaupun terdapat kemungkinan (yang sesungguhnya sangat kecil) lidah tergigit, jangan memasukkan sesuatu kedalam mulut.
  • Ukur suhu, observasi, dan catat bentuk dan lama kejang.
  • Tetap bersama anak selama dan sesudah kejang.
  • Berikan diazepam rektal bila kejang masih berlangsung lebih dari 5 menit. Jangan berikan bila kejang telah berhenti. Diazepam rektal hanya boleh diberikan satu kali oleh orangtua.
  • Bawa ke dokter atau rumah sakit bila kejang berlangsung 5 menit atau lebih, suhu tubuh lebih dari 40 derajat Celsius, kejang tidak berhenti dengan diazepam rektal, kejang fokal, setelah kejang anak tidak sadar, atau terdapat kelumpuhan.
Sekian dan Terima Kasih
Semoga bermanfaat, salam sehat :)

Sunday, 8 December 2013

UGM ~ The Oldest University in Indonesia


Hi, I'm Gamada 2013. This article is about UGM. Universitas Gadjah Mada (UGM) located in the north of Yogyakarta is the oldest and the most prestigious university in Indonesia. The name was taken from the name of Majapahit's Prime Minister, Gadjah Mada. It was established on 9 December 1949 although the first lecture was given in March 1946. During its initial years, the university used the buildings and other facilities belonging to the Kraton of Yogyakarta with the full support of Sultan Hamengkubuwono IX who was the Honorary Chairman of the Board of Trustees. The University gradually established a campus of its own in Bulaksumur. It is now located in an area of 300 hectares on which stand 670 buildings with an area of 740.000 square meters.

UGM has been a state-own legal entity since 26 December 2000. It is at present the largest university in Indonesia in terms of the student population. As a tertiary educational institution, it holds programs for academic education as well as professional education. When it was inaugurated in 1949 it has many faculties (The Faculty of Medicine, Dentistry, Pharmacy, The Faculty of Law, Social and Political Sciences, The Faculty of Engineering, The Faculty of Letters, Pedagogy, and Philosophy, The Faculty of Agriculture and The Faculty of Veterinary Science. Ever since it has expanded into18 faculties, 73 undergraduate study programs, 28 diploma study programs, and a graduate program of 62 study Programs ranging from social sciences to engineering. :D

How to get to Campus????
You can get it quite easily anywhere by public transportation. Buses Trans Jogja and Taxi are easy to catch (but you should be aware when you choose a taxi since sometimes they put a high price for foreigners). There are also 'ojek' a motorcycle riding and 'becak' (pedicab), traditional vehicles for a short trip. From Jalan Kaliurang (Kaliurang Road), known as "Jakal", you can get bus number 7 or 5 or 3 to reach the campus and also to go back to your Boarding House.

That's all about UGM... Enjoy the article :)) see you all next time...

GEGURITAN : MATERI BAHASA JAWA

Geguritan = gurita = grita = gita. Geguritan iki kawiwitan saka carita Bharatayuda, Pendawa lawan Kurawa. Nalika senopatine Pendawa yaiku Bh...