Wednesday, 13 March 2019

VAKSIN PENCEGAH PENYAKIT / VACCINE PREVENTABLE DISEASES

Bebarapa penyakit yang bisa dicegah dengan vaksin:

Penyakit yang disebabkan bakteri:
  1. Difteri
    • Vaksin ini merupakan program wajib Kemenkes untuk anak, dan dapat diulangi ketika dewasa sebagai booster.
  2. Pertusis (Batuk Menggonggong)
    • Vaksin ini merupakan program wajib Kemenkes untuk anak, karena sebagian besar bakteri ini menyerang anak -anak.
  3. Tetanus
    • Vaksin ini merupakan program wajib Kemenkes untuk anak, perempuan sebelum menikah. Dapat diulang ketika dewasa sebagai booster. Alangkah lebih baiknya vaksin ini diberikan tiap 10 tahun pada dewasa.
  4. Haemophilus influenza tipe B (Hib)
    • Vaksin ini merupakan program wajib Kemenkes untuk anak, karena sebagian besar bakteri ini menyerang anak -anak
  5. Pneumococcal disease
    • Vaksin ini bisa diberikan pada lansia, karena lansia sangat rentan terhadap bakteri yang menyebabkan infeksi paru atau pneumonia.
  6. Meningococcal disease
    • Vaksin ini di beberapa negara sudah menjadi program wajib imunisasi. Akan tetapi di Indonesia masih terbatas untuk warga yang memiliki risiko tinggi, misalnya pada jamaah haji, umrah, dll. Vaksin ini mencegah terhadap sakit meningitis atau infeksi pada selaput otak.
  7. TB (Tuberculosis)
    • Vaksin ini menjadi program wajib pemerintah untuk bayi usia 0-2 bulan kehidupan. Vaksin ini sering disebut sebagai vaksin BCG.

Penyakit yang disebabkan virus:
  1. Hepatitis B
    • Vaksin ini menjadi program wajib imunisasi oleh pemerintah untuk bayi usia 0,2,3,4 bulan. Bisa juga diulangi ketika dewasa untuk mencegah penyakit yang menyerang liver ini.
  2. Polio
    • Target dari erapo (eradikasi polio) adalah di tahun 2018. Eradikasi polio: sudah tidak ditemukan lagi virus polio dalam sirkulasi tubuh manusia, tapi wild type polio virus-nya masih ada di laboratorium.
    • Vaksin ini juga menjadi program wajib pemerintah untuk anak.
  3. MMR (Measles, Mumps, Rubella)
    • Di Indonesia sudah ada vaksinnya, tapi yang baru menjadi program imunisasi dari pemerintah adalah vaksin measles (campak) dan MR. Untuk vaksin MMR bayar sendiri. Dan vaksin MMRV (Measles, Mumps, Rubella, Varicella) belum ada di Indonesia.
  4. Rotavirus
    • Vaksin ini untuk mencegah Diare Cair Akut (DCA) yang banyak terjadi pada anak - anak. Yang ditakutkan pada penyakit DCA pada anak dan dewasa adalah dehidrasi berat yang bisa menyebabkan syok hipovolemik (kekurangan air).
    • Vaksin ini belum termasuk program wajib dari pemerintah. Akan tetapi dapat bermanfaat apabila diberikan pada anak.
  5. Varicella (chickenpox/cacar air)
    • Penyakit ini termasuk ringan tapi berbahaya apabila menyerang orang tua (geriatric) atau pada ibu hamil terutama pada:
      • Trimester pertama: dapat menyebabkan kelainan congenital pada janin
      • 2 hari sebelum/setelah persalinan: varicella pada perinatal angka kematiannya cukup tinggi
  6. Hepatitis A
    • Vaksin ini untuk mencegah sakit liver yang bisa ditularkan lewat makanan dan feses manusia. Hepatitis A merupakan salah satu penyakit yang endemis di beberapa wilayah di Indonesia.
  7. Herpes Zoster (shingles)
    • Vaksin ini untuk mencegah virus Herpes Zoster, virus yang bisa masuk ke saraf (Dorsal Root Ganglion) dan tanpak plenting - plenting di kulit yang sesuai dengan persarafannya yang terkena virus.
  8. Human Papilloma Virus (HPV)
    • Vaksin ini penting untuk mencegah kanker serviks dan diberikan kepada wanita yang belum aktif berhubungan seksual (belum menikah), sebagian besar kanker serviks disebabkan oleh HPV tipe 16 dan tipe 18.
  9. Influenza
    • Vaksin ini penting untuk mencegah terkena virus influenza yang endemis di Indonesia pada musim - musim tertentu, terkena virus ini menjadikan seseorang mengalami demam, batuk, pilek sehingga dapat mengganggu aktivitas sehari - hari.
Untuk penjelasan lebih lanjut mengenai VAKSIN MMR, dapat dilihat disini


Napak Tilas Perjalanan Sebuah Sel Darah Merah dalam Masa Hidupnya Selama 120 Hari

Hai teman – teman! Aku akan berbagi cerita tentang keseharianku dan perjalanan hidupku. Temani aku ya . . .
Perkenalkan namaku Merah. Aku dilahirkan di sebuah rumah sakit bersalin bernama Sumsum Merah Tulang Pipih. Aku merupakan sebuah sel darah merah. Orang tuaku adalah hati dan limpa karena ketika masa embrio aku dibentuk di sana, tanpa mereka aku tidak akan ada di sini, dan orang tuaku juga yang akan merombakku ketika aku mati nanti.

Napak Tilas Perjalanan Sebuah Sel Darah Merah dalam Masa Hidupnya Selama 120 Hari

Aku juga mempunyai dasanama seperti wayang – wayang jawa, nama lainku adalah eritrosit. Proses kelahiranku disebut juga dengan eritropoiesis. Produksiku distimulan oleh hormon eritroprotein (EPO) yang disintesa oleh ginjal. Aku terbentuk dari hemositoblas. Hemositoblas adalah sel batang myeloid yang terdapat di dalam sumsum tulang. Aku mempuyai saudara kembar yang sangat banyak karena aku dilahirkan dengan laju produksi sekitar 2 juta sel darah merah perdetiknya. Nama eritrositku berasal dari bahasa Yunani, yaitu erythros dan kytos. Erythros berarti merah dan kytos berarti selubung atau sel. Aku mempunyai beberapa prinsip hidup, diantaranya adalah giat bekerja, disiplin, dan selalu berkoordinasi dengan teman – temanku yang lainnya. Aku tidak boleh bermusuhan dengan teman – temanku karena jika aku bermusuhan maka tidak akan ada koordinasi yang baik dan hasilnya akan fatal. Jika aku salah bertindak maka aku dapat menghilangkan nyawa seseorang. Dari teman – temanku tadi, aku mempunyai dua teman yang sangat dekat denganku. Mereka adalah sel darah putih (leukosit) dan keping darah (trombosit). Mereka teman yang selalu bersamaku. Kami mempunyai geng dengan nama “darah”, geng darah ini terdiri dari aku sel darah merah, dan dua temanku sel darah putih dan keping darah.

Napak Tilas Perjalanan Sebuah Sel Darah Merah dalam Masa Hidupnya Selama 120 Hari

Sewaktu aku dilahirkan, aku mempunyai sebuah nukleus. Ketika aku berumur 7 hari maka aku telah menginjak dewasa dan mengalami sebuah fase yang disebut dengan reduksi, di mana nukleus itu menghilang karena kandungan Hb (hemoglobin) di dalam tubuhku telah bertambah banyak sehingga inti itu pecah dan menghilang. Sayang sekali nucleus dalam tubuhku hilang, aku jadi tidak mempunyai DNA, tidak dapat mensintesa RNA, dan tidak dapat mengobati lukaku sendiri, dan aku akan mati dimakan oleh sel – sel fagosit di hati dan limpa. Akan tetapi, kalau itu sudah menjadi takdirku dari Tuhan, aku menerimanya dengan senang hati dan lapang dada. Waktu nuleusku hilang, waktu itu juga aku harus bekerja seperti sel – sel darah merah yang lainnya.

Teman, ingin tahu ciri – ciri fisikku? Mungkin saja suatu saat kau akan mencariku menggunakan mikroskop atau alat lain. Hehehe. Aku berbentuk bulat dengan diameter 7,5 mikrometer dan ketebalan 2 mikrometer. Kecil sekali bukan? Lebih kecil dari teman geng ku si leukosit. Populasiku dalam organisme kira – kira terdapat 5 juta sel darah merah. Aku lahir dalam bentuk tubuh yang pipih dan cekung di bagian tengah (bikonkaf). Konkaf yang aku punya ini digunakan untuk memberikan ruang kepada hemoglobin untuk mengikat oksigen. Teman apa kamu tau, warna merahku ini disebabkan oleh hemoglobin. Aku mengandung 250 juta hemoglobin. Hemoglobin adalah suatu protein dan zat besi yang akan membantu melaksanakan tugas utamaku yaitu mengangkut dan mengedarkan oksigen ke seluruh penjuru kota. Hemoglobin berasal dari kara heme yang berarti pigmen non protein dan globin yang berarti protein. Protein pigmen (metaloprotein) itulah yang memberi warna merah pada tubuhku. Setiap hari heme ini berikatan dengan rantai polipeptida yang mengandung zat besi. Ketika Hb mengikat oksigen aku menjulukinya sebagai oksihemoglobin dan ketika Hb mengikat karbondioksida aku menjulukinya sebagai karbonminohemoglobin. Oksigen yang aku ikat tersambung secara temporer dengan atom besi. Setelah itu baru aku edarkan oksigen yang aku ikat ke penjuru kota. Oksigen tadi, 98% ke penjuru kota dan sisanya terlarut dalam plasma. Ada juga yang perannya hampir sama dengan hemoglobin, dia adalah myoglobin. Myoglobin adalah seyawa pembawa oksigen yang terletak di jaringan otot.

Sayangnya, hemoglobin bisa selingkuh teman. Apabila terdapat gas karbon monoksida, hemoglobin lebih memilih untuk berikatan dengan gas tersebut daripada berikatan dengan oksigen. Bisa membuat fatal untuk rumah kami yaitu organisme. Aku menyarankan kepada teman – teman semua untuk menghindar dari gas berbahaya tersebut ya.

Aku menempuh perjalanan yang cukup panjang, tapi aku tidak sendirian, banyak teman – teman yang ikut menempuh perjalanan bersamaku sehingga perjalanan ini sangat menyenangkan. Aku dan teman – temanku tidak boleh tersesat dan harus selalu tepat waktu sesuai yang telah dijadwalkan. Perjalananku berawal dari nukleus yang hilang. Pertama, aku menuju ke kota jantung. Teman – temanku menceritakan bahwa kota jantung adalah pusat kota yang tersusun sangat rumit tapi juga begitu indah dengan detakan yang berirama khas. Di kota jantung inilah pusat dari segala proses kehidupan.

Napak Tilas Perjalanan Sebuah Sel Darah Merah dalam Masa Hidupnya Selama 120 Hari

Aku sangat senang sekali ketika aku berhasil memasuki kota jantung. Ternyata benar kata teman – temanku, kota jantung ini sangatlah indah. Kota jantung ini mempunyai empat kecamatan yang mempunyai kekhasan sendiri – sendiri. Empat kecamatan tersebut adalah atrium kanan (serambi kanan), ventrikel kanan (bilik kanan), atrium kiri (serambi kiri), dan ventrikel kiri (bilik kiri). Aku masuk melalui sebuah terowongan bernama pembuluh vena cava. Aku dan teman – temanku yang lainnya mulai memasuki ruangan pertama pada kota jantung, yaitu kecamatan atrium kanan. Di kecamatan ini, aku bertemu dengan saraf yang bernama nodus sinoatrium (SA). Nodus sinoatrium (SA) adalah saraf yang bertugas untuk mengirimkan pesan singkat kepada saraf – saraf lainnya di kota jantung untuk sekadar memberitahu kedatangan kami sehingga dinding – dinding jantung dapat melakukan kontraksi. Pengiriman pesan tersebut terjadi sangat cepat dan tidak akan berhenti selama jantung masih sehat. Dengan adanya nodus sinoatrium, kecamatan atrium kanan yang tadinya sempit kini menjadi cukup besar untuk kami masuki.

Aku sangat – sangat speechless, tidak dapat berkata apa – apa karena aku sangat mengagumi kota ini. Kota jantung yang indah ini, diselubungi oleh selaput ganda yang disebut perikardium dan tersusun atas otot jantung. Otot jantung mampu berkontraksi sehingga jantung dapat mengembang dan mengempis. Itulah sebabnya mengapa jantung dapat melakukan pekerjaan berat. Di batas kecamatan, aku bertemu dengan nodus atrioventrikel (AV). Sama dengan nodus sinoatrium (SA), nodus atrioventrikel (AV) bertugas mengirimkan pesan ke sel saraf lainnya. Perbedaannya adalah pesan yang dikirimkannya. Pesan yang dikirimkan nodus atrioventrikel (AV) bermaksud untuk mengecilkan ruangan atrium kanan sehingga mempermudahkan aku dan teman – temanku dapat melanjutkan perjalanan ke kecamatan kedua. Saat kecamatan atrium kanan mengecil, aku bersama yang lainnya menuju ke kecamatan ventrikel kiri. Kami melewati sebuah gapura dengan tiga buah tiang. Kata temanku yang lebih tua, gapura itu bernama katup tricuspid dengan nama bekennya valvula trikuspid. Katup itu mempunyai fungsi untuk menjaga perbatasan antara kecamatan pertama dan kecamatan kedua supaya siapa saja yang telah masuk kecamatan ventrikel kanan tidak dapat kembali lagi ke kecamatan atrium kanan.

Napak Tilas Perjalanan Sebuah Sel Darah Merah dalam Masa Hidupnya Selama 120 Hari

Kecamatan ventrikel kanan ini mempunyai dinding lebih tebal daripada dengan dinding pada kecamatan atrium kanan. Beberapa detik aku berpikir, aku merasakan hembusan keluar kota jantung. Hembusan itu aku rasakan begitu kencang. Getaran kota jantung dan suara – suara yang ditimbulkannya membuatku takut. Akan tetapi, sel darah merah yang ada disebelahku mencoba menenangkan aku, “Rupanya kamu sel baru ya, tenanglah ini sungguh mengasyikan dan tidak lama kemudian kita akan berada di persimpangan jalan dari batas kota ini.”

Napak Tilas Perjalanan Sebuah Sel Darah Merah dalam Masa Hidupnya Selama 120 Hari

Benar apa yang dikatakannya, tak lama kemudian aku dan yang lainnya keluar dari kota jantung untuk menuju ke kota terunik yaitu paru – paru. Di sana aku harus menukarkan karbon dioksida dengan oksigen. Kini aku telah berada di pipa baru sebuah palang menunjukkanku telah memasuki pembuluh arteri. Sebelum masuk tempat ini, aku telah melalui gapura yang menunjukkan jalan ke paru – paru. Banyak yang menyebutnya katup paru – paru. Setelah sampai persimpangan jalan, aku sangat bingung untuk memilih jalan. Maklum saja aku adalah sel baru yang belum mempunyai banyak pengalaman. Aku harus memilih salah satu jalan diantara dua jalan menuju kota paru – paru. Jalan pertama menuju ke arah paru – paru kanan, sedangkan jalan kedua menuju ke arah paru – paru kiri. Aku memilih arteri pulmonalis kanan, artinya cabang arteri menuju ke paru – paru kanan. Paru – paru memang kota yang unik. Bisa dibilang kota ini adalah kota gelembung. Gelembung – gelembung tersebut terkenal dengan sebutan alveolus. Di sana adalah tempat aku dan para sel darah merah lainnya menukarkan karbon dioksida yang telah diperoleh dari seluruh tubuh. Aku mempunyai hemoglobin yang dapat mengikat gas oksigen. Dengan cepat aku menukarkan gas karbon dioksida dengan oksigen dan kemudian kembali lagi ke kota jantung.

Napak Tilas Perjalanan Sebuah Sel Darah Merah dalam Masa Hidupnya Selama 120 Hari

Kami kembali ke kota jantung melalui vena pulmonalis kanan. Dengan senang hati aku mengikat oksigen dan membawanya ke kecamatan atrium kiri. Kecamatan atrium kiri adalah ruang ketiga pada kota jantung. Lalu aku melanjutkan perjalananku. Dalam perjalananku, aku melewati sebuah gapura di perbatasan kecamatan. Sama dengan gapura di perbatasan kecamatan atrium kanan dan kecamatan ventrikel kanan, hanya saja tiang di gapura di sini hanya ada dua buah dan biasa disebut katup bicuspid dengan nama beken valvula bikuspid. Ventrikel kiri mempunyai dinding yang paling tebal dari seluruh kecamatan yang ada. Hembusannya pun lebih kencang daripada hembusan di ventrikel kanan karena dari ventrikel kiri ini aku melanjutkan perjalanan lebih panjang ke provinsi atas dan provinsi bawah. Bila aku ke provinsi atas maka aku akan mengirimkan oksigen untuk metabolisme sel di bagian atas. Di provinsi atas terdapat kota kepala dan kota leher yang membutuhkan oksigen dariku.

Dan bila aku menuju ke provinsi selatan maka aku akan mengirimkan oksigen untuk metabolisme sel di bagian bawah. Di sana terdapat kota ginjal, kota lambung, kota usus halus, dan lain – lain.
Semua kota itu mempunyai karakteristik masing – masing dan begitu mengagumkan karena walaupun berbeda – beda mereka tetap dapat berkoordinasi dengan baik. Di sana aku dapat membantu mengangkut sampah seperti karbon dioksida dan sisa metabolisme yang sudah tidak dapat digunakan lagi. Karbon dioksida tersebut aku tukarkan dengan oksigen di paru – paru. Penyuplaian oksigen aku lakukan dengan cara yang mudah. Oksigen yang aku bawa cukup berdifusi dengan kota yang membutuhkan suplai oksigen. Kemudian karbon dioksida dan sisa metabolisme yang mereka punya juga akan berdifusi denganku. Setelah perjalanan panjang aku akan kembali lagi ke pusat kota yaitu jantung. Jika aku dari arah provinsi utara maka aku akan melalui vena cava superior. Dan jika aku dari arah provinsi selatan maka aku akan melalui vena cava inferior. Kadang kala aku menemukan jalan yang cukup sempit sehingga aku tidak dapat melewatinya. Untuk memudahkannya aku akan melepaskan ATP yang menjadikan jalan tersebut berelaksasi dan melebar. Aku juga akan melepaskan senyawa S-nitrosothiol saat sahabatku hemoglobin terdeoksigenasi. S-nitrosothiol ini juga berfungsi untuk melebarkan jalan pembuluh darah dan melancarkan perjalananku menuju setiap penjuru kota. Aku juga sedikit berperan dalam sistem kekebalan tubuh. Mengapa hanya sedikit? Karena aku bukanlah ahlinya. Ahlinya atau masternya adalah teman gengku si leukosit. Dia sangat ahli dalam sistem kekebalan tubuh. Ketika kaumku mengalami lisis oleh parasit patogen, maka hemoglobin dalam diriku akan melepaskan radikal bebas yang akan menghancurkan dinding dan membran parasit patogen. Dan seketika dia akan mati. Perjalanan dan pekerjaanku itu begitu menyenangkan. Teman, begitulah keseharianku.

Makin hari aku makin percaya diri. Aku tidak canggung lagi dengan getaran dan hembusan pada kota jantung. Aku juga lebih percaya diri saat meluncur ke pembuluh aorta. Pembuluh aorta merupakan pembuluh terbesar di antara pembuluh – pembuluh lainnya. Ketika aku mengedarkan oksigen ke penjuru kota, aku serasa menjadi bocah petualang. Menyayi, berlari, dan bercanda bersama teman – temanku.

Napak Tilas Perjalanan Sebuah Sel Darah Merah dalam Masa Hidupnya Selama 120 Hari

Aku sangat menyukai pekerjaan ini. Kehidupanku bersama geng darah yang lainnya, yaitu trombosit dan leukosit sangat kompak, tidak ada permusuhan diantara kami. Kalau ada permusuhan diantara kami maka akan membahayakan rumah kami yaitu organisme. Temanku leukosit bisa melenyapkan aku dan rumahku si organisme akan mengalami leukemia. Untung saja teman – temanku dapat berkoordinasi dengan baik.

Pengalaman ini sangat tidak dapat dilupakan, setelah aku harus pergi karena kematian telah ada di depan mata. Aku akan merindukan tempat ini. Aku menghabiskan waktuku untuk bekerja keras. Kini aku sudah tua dan makin tua, keahlianku mengikat dan mengedarkan oksigen sudah makin berkurang. Warna merah dalam tubuhku telah memudar.

Napak Tilas Perjalanan Sebuah Sel Darah Merah dalam Masa Hidupnya Selama 120 Hari

Kematian pun datang menghampiri. Semua sel darah merah yang berusia 120 hari dikumpulkan dalam suatu tempat. Tempat itu bernama hati. Tiba – tiba, aku kaget ketika melihat bayangkan seperti hantu.

Akan tetapi, dia sangat ramah dan berkata padaku, “Perkenalkan namaku Pluripoten. Tenang saja ini akan menjadi akhir perjalanan yang menyenangkan dari sebuah pengorbanan agung sebagai eritrosit yang telah menghabiskan waktu selama 120 hari untuk mengabdi dan berbuat mulia di organisme ini. Kau telah mengerjakan tugasmu dengan baik, kau akan mati dengan tenang. Orang Islam mengatakan mati syahid. Biarkan sel – sel baru yang meneruskan pekerjaan agungmu itu. Biarkanlah hati dan limpa merombak zat besi yang ada di dalam tubuhmu untuk dijadikan sel darah merah yang baru dan dialah yang akan melanjutkan tugas muliamu. Aku tak sendiri aku bersama hormon Eritropoietin yang akan merombakmu”. Dalam hatiku aku tersenyum karena aku tidak lenyap selamanya karena masih ada zat besi yang akan digunakan kembali untuk membentuk generasi penerusku, yang akan melanjutkan tugas muliaku. Sedangkan hemoglobinku berubah menjadi warna hijau. Dia diubah menjadi billirubin dan berganti tugas yang tadinya mengikat oksigen kini menjadi mengemulsikan lemak. Dia akan keluar melalui saluran empedu yang berpusat di kota usus. Belum sempat aku menjawab perkataannya, Pluripoten melanjutkan certitanya, “Aku di sini bertugas menjadi dokter dan hormone Eritropoietin adalah perawatnya. Sebelum kamu akan dirombak di tempat ini, aku akan menceritakan sedikit tentang pembentukan sel darah merah. Pertama aku meracik bahan – bahan yang tersedia dan menambahkan zat besi yang didapat dari para eritrosit yang sudah mati. Hasil racikan pertama disebut Proeritroblas. Dengan menggunakan rangsangan yang sesuai, maka akan terbentuk lagi sel – sel baru yang dinamakan Basofil Eritroblas. Sel – sel ini masih mempunyai sedikit sekali hemoglobin. Kemudian terbentuklah sel – sel baru dengan hemoglobin lebih banyak dan dinamakan Polikromatofil Eritroblas. Selanjutnya terbentuk sel baru dengan lebih banyak lagi hemoglobin dan dinamakan Ortokromatik Eritroblas, di mana warnanya merah. Setelah itu, sel akan berkembang menjadi retikulosit. Perkembangan itu dapat diketahui dengan melihat sitoplasmanya. Jika sitoplasma sudah dipenuhi oleh hemoglobin sehingga mencapai konsentrasi kira – kira 34%, maka nukleus akan memadat sampai ukurannya menjadi lebih kecil dan terdorong dari sel. Pada tahap akhir, retikulosit akan berkembang menjadi eritrosit. Dalam satu sampai dua hari sel dilepaskan di rumah sumsum tulang merah pipih”. Setelah lama bercerita, tibalah waktu yang ditunggu – tunggu, ajal menjemputku. Selamat tinggal kawan karena akhirnya aku telah tiada.

OSTEOARTRITIS

Definisi

  • Osteoartritis (OA) merupakan penyakit degenerasi pada sendi yang melibatkan kartilago, lapisan sendi, ligamen, dan tulang sehingga menyebabkan nyeri dan kekakuan pada sendi (CDC, 2014).
  • Dalam Perhimpunan Reumatologi Indonesia, osteoartritis didefinisikan sebagai suatu  penyakit  sendi  degeneratif yang terjadi karena proses inflamasi kronis pada sendi dan tulang yang ada disekitar sendi tersebut.
  • Osteoartitis (OA) merupakan penyakit degeneratif yang terjadi pada persendian, keseluruhan struktur dari sendi mengalami perubahan patologis. Perubahan-perubahan tersebut ditandai dengan kerusakan tulang rawan (kartilago) hyalin sendi, meningkatnya ketebalan serta sklerosis dari tulang di dekat persendian tersebut, pertumbuhan osteofit pada tepian sendi, meregangnya kapsula sendi, timbulnya peradangan, dan melemahnya otot–otot yang menghubungkan sendi (Felson, 2006).


Epidemiologi
  • Osteoartritis (OA) merupakan penyakit persendian yang kasusnya paling umum dijumpai secara global. Diketahui bahwa OA diderita oleh 151 juta jiwa di seluruh dunia dan mencapai 24 juta jiwa di kawasan Asia Tenggara (WHO, 2004).
  • Prevalensi OA lutut pada pasien wanita berumur 75 tahun ke atas dapat mencapai 35% dari jumlah kasus yang ada. Diperkirakan juga bahwa satu sampai dua juta lanjut usia di Indonesia menjadi cacat karena OA (Soeroso, 2006).
Faktor Risiko

Hal-hal yang dapat menjadi faktor risiko timbulnya OA antara lain:
  • Usia, semakin lanjut usia seseorang, pada umumnya semakin besar faktor risiko terjadinya osteoarthritis genu.
  • Trauma, yang mengenai permukaan sendi.
  • Pekerjaan, yang menimbulkan beban berulang pada sendi.
  • Obesitas (kegemukan), dapat menyebabkan peningkatan beban pada sendi, terutama sendi lutut.
  • Riwayat OA pada keluarga.
  • Densitas (kepadatan) tulang yang rendah
Etiologi
  • Berdasarkan etiopatogenesisnya OA dibagi menjadi dua, yaitu OA primer dan OA sekunder. OA primer disebut juga OA idiopatik yang mana penyebabnya tidak diketahui dan tidak ada hubunganya dengan penyakit sistemik, inflamasi ataupun perubahan lokal pada sendi, sedangkan OA sekunder merupakan OA yang ditengarai oleh faktor-faktor seperti penggunaan sendi yang berlebihan dalam aktifitas kerja, olahraga berat, adanya cedera sebelumnya, penyakit sistemik, inflamasi. OA primer lebih banyak ditemukan daripada OA sekunder (Davey, 2006).
Patogenesis

Sendi yang menyangga tubuh adalah vertebra, panggul, lutut, dan pergelangan kaki. Oleh karena itu, osteoarthritis paling sering terjadi pada hip joint, ankle joint, knee joint, dan spine.

OA terjadi karena degradasi pada rawan sendi, remodelling tulang, dan inflamasi. Terdapat 4 fase penting dalam proses pembentukan osteoartritis yaitu fase inisiasi, fase inflamasi, nyeri, fase degradasi.
  • Fase inisiasi: Ketika terjadi degradasi pada rawan sendi, rawan sendi berupaya melakukan perbaikan sendiri dimana khondrosit mengalami replikasi dan memproduksi matriks baru.
  • Fase inflamasi: Meningkatnya pro-inflamasi sitokin dan jumlah leukosit yang mempengaruhi sendi.  IL-1 (Inter Leukin-1) dan tumor nekrosis faktor-α (TNF α) mengaktifasi enzim degradasi seperti collagenase  dan gelatinase untuk membuat produk inflamasi pada osteoartritis.  Produk inflamasi memiliki dampak negatif pada jaringan sendi, khususnya pada kartilago sendi, dan menghasilkan kerusakan pada sendi.
  • Fase nyeri: Pada fase ini terjadi proses peningkatan aktivitas fibrinogenik dan penurunan aktivitas fibrinolitik. Proses ini menyebabkan penumpukan trombus dan komplek lipid pada pembuluh darah subkondral sehingga menyebabkan terjadinya iskemik dan nekrosis jaringan. Hal ini mengakibatkan lepasnya mediator kimia seperti prostaglandin dan interleukin yang dapat menghantarkan rasa nyeri. Rasa nyeri juga berupa akibat lepasnya mediator kimia seperti kinin yang dapat menyebabkan peregangan tendo, ligamen serta spasme otot-otot. Nyeri juga diakibatkan oleh adanya osteofit yang menekan periosteum dan radiks saraf.
  • Fase degradasi : IL-1 mempunyai efek multipel pada sel cairan sendi yaitu meningkatkan sintesis enzim yang mendegradasi rawan sendi. Peran makrofag didalam cairan sendi juga bermanfaat, yaitu apabila terjadi jejas mekanis, material asing hasil nekrosis jaringan
Klasifikasi
  • Osteoartritis Primer: OA Primer tidak diketahui dengan jelas penyebabnya, dapat mengenai satu atau beberapa sendi.
  • Osteoartritis Sekunder: OA sekunder dapat disebabkan oleh penyakit yang menyebabkan kerusakan pada sinovia sehingga menimbulkan osteoartritis sekunder. Biasanya terjadi akibat trauma, infeksi, atau faktor genetik/perkembangan
Menurut Kellgren dan Lawrence, secara radiologis Osteoartritis di klasifikasikan menjadi:

  • Grade 1 : Gambaran celah sendi seringnya normal dan jarang ada penyempitan, terdapat osteofit minim (lipping).
  • Grade 2 : Minimal/mild, osteofit tervisualisasi dengan jelas dan permukaan sendi menyempit asimetris.
  • Grade 3 : Moderate, adanya osteofit moderate pada beberapa tempat/tepi tulang, permukaan sendi menyempit, tampak sklerosis subkondral, dan mungkin akan terlihat adanya deformitas pada kontur tulang.
  • Grade 4 : Severe, adanya osteofit yang besar, permukaan sendi menyempit (marked narrowing), sklerosis subkondral berat, dan kerusakan permukaan sendi
Manifestasi Klinis

  • Pain, sendi akan terasa nyeri sewaktu dan sesudah beraktivitas.
  • Tenderness, sendi akan terasa tender ketika kita memberikan tekanan ringan.
  • Stiffness, kekakuan sendi akan terasa ketika bangun pada pagi hari ataupun pada saat istirahatkan sendi yang lama dan tidak digerakkan.
  • Loss of flexibility, keterbatasan gerak dikarenakan nyeri.
  • Grating sensation, memungkinkan terdengar suara atau rasa yang membuat tidak nyaman
  • Bone spurs (Osteophytes), pertumbuhan jalu pada tulang
Pemeriksaan Fisik
  • Pemeriksaan fisik yang dilakukan pada pasien dengan OA yaitu dengan menilai keterbatasan gerak pada sendi yang terlibat, selain penurunan ROM dari sendi yang terlibat biasanya teraba krepitasi pada sendi tersebut. Pembengkakan pada sendi yang asimetris dapat ditemukan pada OA. Tanda-tanda adanya peradangan pada sendi (nyeri tekan, gangguan gerak, rasa hangat yang merata dan warna kemerahan) mungkin dijumpai pada OA karena adanya sinovitis. Biasanya tanda-tanda ini tak menonjol dan timbul belakangan, seringkali dijumpai di lutut, pergelangan kaki, dan sendi-sendi kecil tangan dan kaki.
  • Perubahan gaya berjalan hampir selalu berhubungan dengan nyeri karena menjadi tumpuan berat badan. Terutama dijumpai pada OA lutut, sendi paha, dan OA tulang belakang dengan stenosis spinal. Pada sendi-sendi lain, seperti tangan bahu, siku, dan pergelangan tangan, ostoartritis juga menimbulkan gangguan fungsi
Pemeriksaan Penunjang
  • Untuk menentukan diagnostik OA selain melalui pemeriksaan fisik juga diperlukan pemeriksaan penunjang seperti radiologis dan pemeriksaan laboratorium. Foto polos dapat digunakan untuk membantu penegakan diagnosis OA walaupun sensivitasnya rendah terutama pada OA tahap awal


Manajemen

Non-farmakologi
  • Edukasi pasien
  • Reduksi badan
  • Penggunaan tongkat atau alat bantu yang sesuai
  • Isometric exercise
  • Bracing
  • Fisioterapi sendi

Farmakologi
  • Analgesik oral : asetaminofen, NSAID, salicylate, COX-2 inhibitor
  • Tramadol
  • Analgesik topikal : gel Na diclofenac 1%, topical capsaicin
  • Agen kondroprotektif : asam hialuronat, tetrasiklin, kondrotin sulfat, glikosaminoglikan, vitamin C, steroid intraartikuler

Surgery
  • Arthroscopic debridement and lavage
  • Joint replacement surgery

Referensi
  • Kellgren JH, Lawrence JS. Radiological assessment of osteoarthrosis. Ann Rheum Dis 1957; 16:494-501
  • Chen, M.Y., et al. 2004. Basic Radiology. USA: McGraw Hill
  • Gunderman, 2006. Essential Radiology, Ed.2. New York: Thieme
  • JR Swagerty, Daniel L. Hellinger, Deborah. Radiographic assessment of osteoartritis.  American family physician [serial on the Internet]. 2001 Jul [cited 2011 Dec 19].  Available from: www.aafp.org/afp.
  • Felson D.T, M.D., M.P.H. 2006. Osteoarthritis of the Knee. Available from:  http://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMcp051726
  • Soeroso, J., Harry Isbagio, Handono Kalim, dkk. 2006. Osteoartritis. Buku Ajar Ilmu  Penyakit Dalam. FK-UI. Jakarta.
  • Davey P., 2006. At a Glace Medicine. Alih bahasa oleh, Rahmalia A., Novianti C. Jakarta: Erlangga. 374-5

Artritis (Radang Sendi)


Artritis merupakan suatu penyakit yang terjadi proses peradangan pada sendi. Artritis terdiri dari 3 kategori (Herring, 2016):

Hypertrophic

  • Dikarakteristikkan oleh bone formation pada sendi. Bone formation terjadi pada tulang utama yang disebut subchondral sclerosis dan protrusi pada tulang utama yang disebut dengan osteofit.
  • Yang termasuk kedalam kategori hipertrofik adalah osteoarthritis primer, osteoarthritis sekunder, charchot artropathy.
Erosive
  • Dikarakteristikkan oleh lesi lytic yang kecil, batas tegas, bentuk ireguler. Lesi pada sekitar permukaan sendi disebut erosi.
  • Yang termasuk ke dalam kategori erosive adalah rheumatoid, gout, psoriatic, hemophilia, ankylosing spondylitis.

Infectious arthritis
  • Dikarakteristikkan dengan pembengkakan sendi, osteopenia, dan destruksi korteks artikular.
  • Contoh yang termasuk ke dalam kategori infeksius adalah pyogenic tuberculosis.
Referensi
  • Herring, W, 2016, Learning Radiology : Recognizing The Basics, ed. 3, elsevier : Philadelphia.


Tuesday, 12 March 2019

TRAUMA ABDOMEN (Abdominal Trauma)


KLASIFIKASI
  • Trauma Tajam Abdomen
    • Luka tusuk lebih sering terjadi
    • Luka tembak merupakan penyebab 90% kasus kematian
    • Paling sering mengenai: usus halus > colon > hepar
  • Trauma Tumpul Abdomen
    • Trauma tumpul menyebabkan kematian lebih besar dari trauma tajam abdomen, karena sulit untuk didiagnosa dan berhubungan dengan multiple trauma
    • Organ terkena : lien > hepar

MEKANISME TRAUMA

Trauma Tajam Abdomen
  • Luka Tusuk
    • Pisau, pemecah es, pen, pecahan botol
  • Luka Tembak
    • Menyebabkan multipel trauma organ dan perforasi usus

PEMERIKSAAN FISIK


Tanda – tanda perdarahan intraperitoneal

  • Nyeri tekan abdomen, defans muskular,  hematoschezia/melena , hipovolemia, hipotensi
  • Tentukan entrance and exit wound untuk mengetahui jalur cedera (injury pathway)
  • Distensi abdomen -  pneumoperitoneum, gastric dilation, or ileus
  • Ecchymosis pada regio flank (Gray-Turner sign) atau umbilicus (Cullen's sign) - retroperitoneal hemorrhage
  • Contusio abdomen
  • Penurunan suara peristaltik abdomen
  • RT: ditemukan darah pada handschoen

PATOFISIOLOGI
  • Blunt Abdominal Trauma
    • Rupture or burst injury of a hollow organ by sudden rises in intra-abdominal pressures
    • Crushing effect
    • Acceleration and deceleration forces  → shear injury
  • Seat belt injuries
    • “seat belt sign” = highly correlated with intraperitoneal injury

DIAGNOSIS

Laboratorium
  • Dapat ditemukan adanya ↓ Hct, ↑ WBC, ↓ Hb
Radiologi
  • Foto polos:
    • Bila terdapat fraktur akan terjadi kerusakan pada organ viscera di sekitarnya
    • Dapat ditemukan udara bebas intraperitoneal
  • Imaging CT Scan
    • Untuk melihat lesi pada organ dan perdarahan intraperitoneal
    • Membantu dalam tatalaksana non operatif
    • Kerugian : kurang sensitif untuk trauma pada pankreas, diafragma, usus halus, mesentarium
  • Imaging Angiography
    • Untuk embolisasi perdarahan digunakan untuk perdarahan intraperitoneal dan retroperitoneal setelah trauma tumpul abdomen.
  • FAST
    • Focused assessment with sonography for trauma (FAST)
    • Digunakan untuk mengidentifikasi adanya perdarahan intraperitoneal setelah trauma tumpul
    • 4 area: Perihepatic & hepato-renal space (Morrison’s pouch), Perisplenic, Pelvis (Pouch of Douglas/rectovesical pouch), Pericardium (subxiphoid)
    • Sensitivitas 60 - 95% untuk mendeteksi cairan 100 mL - 500 mL
  • Diagnostic Bilas Lambung
  • Aspirasi cairan darah peritoneal
    • >10 mL menandakan adanya trauma intraperitoneal
    • Masukkan kateter dengan seldinger, semiopen, atau open
    • Bilas cavum peritoneal dengan Normal Saline
    • Positif, bila:
      • Trauma tumpul, atau trauma tusuk pada bagian anterior, flank, atau posterior : RBC > 100,000/mm3
      • Luka tusuk pada inferior dada atau luka tembak : RBC  > 5,000-10,000/mm3
  • Laparoscopy
    • Penting untuk evaluasi luka tusuk pada thoracoabdominal
    • Terutama trauma diaphragma
    • Memperbaiki organ dengan laparoscope: diaphragm, solid viscera, stomach, small bowel.
    • Kerugian: Kurang sensitif pada organ berrongga dan retroperitoneum, Komplikasi apabila terjadi trocar misplacement.

TATALAKSANA

Prinsip Umum Trauma:
  • Manajemen jalan napas, pemasangan dua jalur IV, penutupan luka dan eviscerasi dengan perawatan luka steril
  • Antibiotik profilaksis : menurunkan resiko sepsis intraabdomen karena perforasi organ
  • Pencabutan benda asing dilakukan di kamar operasi
Management of Blunt abdominal trauma
  • Pembedahan

KESIMPULAN
  • Laparotomy dilakukan apabila terjadi shock, evisceration, atau peritonitis
  • FAST merupakan cara evaluasi perdarahan intraperitoneal yang noninvasive, cepat, dan akurat
  • Kontrol kerusakan adalah prinsip manajemen operasi dengan mengontrol dan meresusitasi sebelum dilakukan terapi definitif

REFERENSI
  • Biffl WL, Moore EE. Management guidelines for penetrating abdominal trauma. Curr Opin Crit Care 2010;16:609-617
  • Waibel BH, Rotondo MF. Damage control in trauma and abdominal sepsis. Crit Care Med. 2010 Sep;38(9 Suppl):S421-30.
  • Marx: Rosen’s Emergency Medicine, 7th ed. 2009 Mosby



GEGURITAN : MATERI BAHASA JAWA

Geguritan = gurita = grita = gita. Geguritan iki kawiwitan saka carita Bharatayuda, Pendawa lawan Kurawa. Nalika senopatine Pendawa yaiku Bh...